Wednesday, January 19, 2022

BATERAI (AKI)

 

BATERAI (AKI)

Konstruksi Aki (Baterai)

 Secara sederhana, aki itu terdiri dari tiga komponen utama yakni ; plat positif, plat negative dan larutan elektrolit.

 Gambarnya kurang lebih akan seperti ini.

 


Saat plat positif dan negative dihubungkan melalui sebuah beban (lampu) maka akan terjadi reaksi kimia pada larutan elektrolit aki yang membuat timbulnya arus listrik dari plat positif ke plat negative. Sehingga lampu dapat menyala.

 

Gambar diatas merupakan gambar konstruksi dari satu cell aki saja, pada aki sebenarnya ada sekitar 6 cell dimana masing-masing cell dapat mengeluarkan tegangan mencapai 2.1 V. keenam cell tersebut dirangkai secara seri sehingga total aki dapat mengeluarkan tegangan mencapai 12.6 V.

 

Komponen Aki Dan Fungsinya




 Setidaknya kalau dikupas secara mendalam akan terlihat 10 bagian baterai, nama bagian baterai yang kita bahas itu merujuk ke aki basah. Jadi mungkin apabila dibandingkan dengan aki kering ada perbedaan komponen.

 

1. Kotak Baterai

 Kotak aki atau battry box adalah wadah atau tempat diletakannya semua bagian-bagian aki. Selain sebagai wadah, kotak aki juga berfungsi sebagai housing yang melindungi semua bagian aki dari benturan.

 

Bahan kotak ini memang terbuat dari bahan plastik khusus yang keras. Sehingga, kalau ada tumbukan dari luar tidak akan mempengaruhi semua komponen didalam aki.

 

2. Plat aki (positif dan negative)

 Plat baterai berperan dalam proses reaksi kimia saat baterai bekerja. Plat ini ada dua buah, yakni plat positif dan plat negative.

 

Plat negative terbuat dari bahan timah hitam/timbal/lead dengan unsur kimia Pb berwarna abu-abu. Sementara plat positif terbuat dari bahan lead dioxide dengan unsur PbO2. Atau paduan antara timbal dan oksigen dengan warna coklat.

 

Perbedaan bahan ini akan membuat aliran listrik selalu berasal dari plat positif. Besarnya arus listrik yang dihasilkan akan dipengaruhi oleh luas penampang dari plat ini.

 

3. Plat separator

Sesuai namanya, plat separator berfungsi untuk menyekat plat positif dan negative. Kedua plat ini harus disekat agar tidak terjadi korsleting, karena kalau itu terjadi maka reaksi kimia tidak akan berlangsung.

 


Separator ini terbuat dari bahan isolator yang mampu menahan arus listrik, selain itu permukaan separator ini juga dibuat berpori-pori untuk memungkinkan larutan elektrolit mengalir dari plat positif ke negative atau sebaliknya.

 

4. Cell separator


Separator cell atau disebut juga sebagai partisi sel adalah komponen yang memisahkan tiap-tiap sel. Seperti yang disebutkan diatas, satu unit baterai itu terdiri dari 6 cell. Dan masing-masing cell akan dipisahkan oleh cell separator.

 

Berbeda dengan plat separator, partisi sel tidak memiliki celah sekecilpun. Sehingga, setiap sel memiliki larutan elektrolit yang bersifat individu. Oleh sebab itulah, dalam satu memiliki 6 buah tutup.

 

5. Cell connector

 Penghubung sel adalah sebuah benda konduktor yang akan menghubungkan plat antar cell secara seri. Seperti gambar yang ditujukan diatas, konektor ini akan menghubungkan plat negative pada cell satu dengan plat positif di cell dua dan seterusnya.

 

6. Larutan elektrolit

 Larutan elektrolit pada aki basah umumnya menggunakan larutan H2SO4 atau larutan antara air dan ion sulfat. Fungsi larutan asam sulfat ini adalah sebagai zat yang akan bereaksi didaam aki.

 

Saat reaksi terjadi, ion sulfat akan terlepas dan menempel pada plat aki yang berbahan timah hitam. Hal ini akan semakin mengurangi kadar sulfat didalam larutan elektrolit. Normalnya, saat aki terisi penuh kadar sulfat ada sekitar 36% atau apabila diukur menggunakan hydrometer hasilnya 1,270.

 

Sementara saat aki terus digunakan, kadar ion sulfat akan berkurang sehingga dalam posisi aki kosong berat jenisnya turun dari 1,270.

 

Untuk mengembalikan berat jenis elektrolit maka perlu dilakukan charging. Proses charging itu sendiri sebenarnya berfungsi untuk mengembalikan ion sulfat yang menempel pada plat aki agar berat jenis kembali ke 1,270.

 

7. Kutub baterai

 Kutub baterai (pole) adalah sebuah konduktor yang terpasang diujung plat baterai. Seperti yang kita ketahui, 6 cell didalam baterai akan dirangkai secara seri. Dan ujung rangkaian tersebut pasti berupa plat positif dan negative.

 

Kutub ini dijadikan sebagai tempat untuk meletakan terminal baterai.

 

8. Tutup ventilasi

 


Tutup ventilasi adalah penutup yang berada tepat diatas cell. Fungsi tutup ini ada dua, yakni ;

Sebagai tempat untuk mengisi larutan elektrolit pada tiap cell aki.

Sebagai ventilasi di tiap cell saat reaksi kimia terjadi.

 

Khusus untuk fungsi yang kedua, terkadang kita tidak menyadari karena pada tutup ini sebenarnya terdapat lubang cukup kecil sebagai tempat hydrogen menguap ketika aki di charge.

 

Ketika lubang ini tersumbat, maka hydrogen tersebut akan terjebak didalam aki sehingga aki akan menggelembung. Namun ketika ada gas hydrogen diluar aki, anda juga perlu berhati-hati karena gas ini mudah terbakar.


Cara Pengukuran Berat Jenis Elektrolit Pada Baterai

Baterai merupakan komponen penting pada kendaraan karena fungsi baterai yang sangat vital bagi kendaraan.

 

Baterai digunakan sebagai penyedia sumber arus bagi komponen-komponen kelistrikan pada kendaraan.

 

Sehingga kondisi baterai harus dijaga termasuk kapasitas arus listrik yang tersimpan di dalam baterai.

 

Jika baterai digunakan sebagai sumber arus maka di dalam cairan elektrolit baterai akan terjadi proses pengosongan.

 

Reaksi kimia pada proses pengosongan baterai dapat dilihat pada gambar dibawah ini :



Pada waktu terjadinya proses pengosongan pada elektrolit (H2SO4) ini akan bergabung secara bertahap (berangsur-angsur) dengan plat positif (PbO2) dan plat negatif (Pb) sampai dengan elektrolit (H2SO4) berubah menjadi air (H2O). Sehingga bila hal ini terjadi maka konsentrasi pada elektrolit akan berkurang dan berat jenisnya pun ikut berkurang.

 

Pada elektrolit memiliki berat jenis 1,26 sedangkan berat jenis pada air adalah 1,00 sehingga jika muatan listrik berkurang maka berat jenis elektrolit akan semakin turun mendekati 1,00.

 

Maka untuk mengetahui berapa arus listrik yang tersimpan dalam baterai dapat diketahui dengan cara memeriksa berat jenis elektrolitnya yaitu mengukur berapa banyaknya persentase asam sulfat yang masih terkandung dalam elektrolitnya.

 

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengukur berat jenis elektrolit pada baterai dapat menggunakan alat hydrometer.

 

Berat jenis dapat diartikan dengan perbandingan berat antara benda yang akan diukur dengan berat air dalam isi yang sama.

 

Secara umum, untuk berat jenis standar ditentukan pada temperatur atau suhu 20o C. Berat jenis dari elektrolit sama dengan 1,26. Berat jenis dari elektrolit ini akan turun sebesar 0,0007 setiap kenaikan suhu 1o C.

 

Untuk pengukuran berat jenis elektrolit pada suhu 20o C dapat digunakan rumus di bawah ini :

 

S20 = St + 0,0007 x (t - 20)

 

Dimana :

·                     S20 merupakan berat jenis standar pada suhu 20o C

·                     St merupakan hasil atau nilai pengukuran berat jenis

·                     T merupakan temperatur atau suhu elektrolit pada saat melakukan pengukuran dalam satuan derajat celsius


Cara melakukan pengukuran berat jenis menggunakan hydrometer :

1.           Lepaskan terminal negatif baterai agar tidak terjadi hubungan singkat.

2.           Lepaskan tutup pengisian baterai pada semua sel.

3.           Ukur suhu dari elektrolit baterai menggunakan thermometer, lalu catat hasil pengukurannya.

4.           Masukkan ujung hydrometer ke dalam elektrolit baterai samapi cairan elektrolit masuk ke dalam hydrometer dan pelampung terangkat.

5.           Baca berat jenis elektrolt baterai pada hydrometer pada posisi yang sejajar. Kemudian catat hasil pengukuran.

6.           Lakukan pada semua sel pada baterai.



Misal hasil pengukuran suhu elektrolit menunjukkan suhu 25o C. Hasil pengukuran berat jenis elektrolit yaitu sebesar 1,21. Sehingga untuk menentukan ukuran berat jenis standar pada suhu 20o C dapat dilakukan dengan menggunakan rumus S20 = St + 0,0007 x (t - 20), maka hasilnya :

S20 = St + 0,0007 x (t - 20)

S20 = 1,21 + 0,0007 x (25 - 20)

S20 = 1,21 + 0,0007 x (5)

S20 = 1,21 + 0,0035

S20 = 1,2135

Jadi berat jenis elektrolit baterainya yaitu sebesar 1,2135

Jika sudah diketahui berat jenis elektrolit pada baterai maka segera lakukan tindakan. Tindakan yang perlu dilakukan dapat ditunjukkan pada tabel di bawah ini :



Thursday, March 18, 2021

Sistem Pengapian Konvensional: Pengertian, Fungsi, Komponen dan Cara Kerja

 

Sistem Pengapian Konvensional: Pengertian, Fungsi, Komponen dan Cara Kerja

Pengertian, Fungsi, Komponen dan Cara Kerja – Motor bakar merupakan motor yang menghasilkan tenaga melalui proses pembakaran campuran udara dan bahan bakar di dalam cylinder (ruang bakar). Berdasarkan jenis bahan bakarnya, motor bakar khususnya mobil dibedakan menjadi dua yaitu mesin bensin dan mesin diesel.

Pada mesin bensin, pada akhir langkah kompresi dibutuhkan percikan bunga api untuk membakar campuran udara dan bahan bakar yang telah dikompresi tadi. Sehingga akan terjadi langkah usaha yang menghasilkan tenaga untuk menggerakkan mobil.

Lihat selengkapnya tentang siklus kerja motor dalam artikel : Cara Kerja Motor 4 Langkah (Tak).

Sebuah sistem yang menyediakan percikan bunga api dalam ruang bakar ini disebut sebagai sistem pengapian. Percikan atau loncatan bunga api akan terjadi pada ujung elektroda pada busi, bunga api ini dapat terjadi apabila tegangan yang melawatinya cukup tinggi. Untuk itu diperlukan ignition coil (koil pengapian) untuk menaikkan tegangan baterai (12 volt) menjadi 10k volt.

Tegangan yang telah dinaikkan akan disalurkan/dibagi ke masing-masing silinder oleh distributor melalui kabel busi (kabel tegangan tinggi). Seiring perkembangan teknologi, sistem pengapian ini terus berkembang dengan kecanggihan dan kefektifannya.

Ada sistem pengapian elektronik yang menggunakan transistor, CDI dan lain-lain, komponennya pun juga mengalami perkembangan. Misal saja pada sistem pengapian konvensional menggunakan satu ignition coil untuk 4 silinder, namun pada mobil-mobil sekarang terdapat satu ignition coil untuk satu silinder, atau satu inginiton coil untuk 2 silinder.

Sebelum memahami sistem pengapian elektronik, kita akan mempelajari terlebih dahulu mengenai sistem pengapian konvensional. Kita akan mempelajari mulai dari pengertian sistem pengapian, fungsi sistem pengapian, komponen-komponennya dan cara kerja sistem pengapian konvensional.

Tapi sebelum itu semua, bantu website ini dengan like fanspage dan subcribe channel YouTube bisaotomotif.com yaa.. Terimakasih !!  

Pengertian Sistem Pengapian Konvensional 

Pengertian ke 1 :

Sistem pengapian konvensional adalah sebuah sistem pada kendaraan bermotor yang berfungsi untuk membangkitkan tegangan baterai (12 volt) menjadi tegangan tinggi (10k volt) yang kemudian disalurkan ke masing-masing silinder sehingga menghasilkan loncatan bunga api pada busi yang dibutuhkan untuk proses pembakaran.

Pengertian ke 2 :

Sistem pengapian konvensional adalah sebuah sistem yang berfungsi untuk menyediakan loncatan bunga api pada busi dengan cara menaikkan tegangan baterai menjadi tegangan tinggi (pada coil) dengan bantuan platina (breaker point) untuk memutuskan arus primer (arus dari baterai).


Fungsi Sistem Pengapian

Sistem pengapian konvensionel memiliki beberapa fungsi utama yaitu :

1. Menyediakan loncatan bunga api pada busi dalam waktu yang tepat untuk membakar campuran udara dan bahan bakar.

2. Agar terjadi loncatan bunga api, maka tegangan harus tinggi. Sehingga sistem pengapian juga berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai menjadi tegangan tinggi pada coil melalui hubung singkat arus primer oleh breaker point (platina).

Komponen-komponen Sistem Pengapian Konvensional + Fungsinya

Sistem pengapian konvensional memiliki beberapa komponen utama, yang membedakan komponen sistem pangapian konvensional dan elektronik adalah pada pemutusan arus primernya. Pemutusan arus primer ini bertujuan agar pada ignition coil terjadi induksi tegangan tinggi.

Pada pengapian konvensional pemutusan arus primer dilakukan oleh breaker point (platina), sementara pada pengapian elektronik dilakukan oleh transistor maupun CDI (Capasitor Dicharge Igntiton).

Berikut adalah komponen-komponen sistem pengapian beserta fu

ngsinya :


Komponen SIstem Pengapian Konvensional

1. Baterai

Dalam sistem pengapian baterai ini berfungsi untuk menyediakan arus listrik voltase rendah (12 volt) untuk ignition coil.  Selain menjadi komponen sistem pengapian, baterai juga berfungsi untuk mensuplay kebutuhan kelistrikan pada saat mesin belum hidup, komponen yang disuplay antara lain sistem pengisian, klakson, sistem starter dan komponen kelistrikan bodi yang lain.

2. Ignition coil

Berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai (12) menjadi tegangan tinggi (10KV atau lebih) yang dibutuhkan untuk pengapian (meloncatkan bunga api pada busi).

Koil pengapian terdiri dari dua kumparan yang masing-masing dililitkan pada inti besi. Kumparan pertama disebut dengan kumparan primer, dan yang kedua disebut kumparan sekunder.

Kumparan primer akan menerima arus dari baterai, yang kemudian akan diputus oleh breaker point (platina) sehingga pada kumparan sekunder terjadi induksi elektromagnetik dan membangkitkan tegangan hingga 10K volt atau lebih.


Gambar kontruksi ignition coil (koil pengapian)

 

Kumparan primer coil memiliki kawat tembaga yang lebih besar (0,5 – 1,0 mm) namun memiliki jumlah gulungan yang lebih sedikit dibandingkan kumparan sekunder yaitu 150 – 300 kali.

Sebaliknya, kumparan sekunder memiliki kawat tembaga dengan diameter yang lebih kecil, namun memiliki jumlah gulungan yang lebih banyak yaitu antara 15.000 – 30.000 gulungan.

3. Distributor


Gambar ilustrasi distributor pada sistem pengapian

Berfungsi untuk membagi/mendistribusikan tegangan tinggi yang telah dibangkitkan oleh ignition coil ke masing-masing silinder. Distributor terdiri dari beberapa komponen yaitu :  


Komponen-komponen Distributor

 

a. Cam (nok)

Berfungsi untuk membuka breaker point (platina) pada sudut crankshaft (poros engkol) yang tepat untuk setiap silinder. Nok ini terhubung dengan poros distributor, dan biasanya digerakkan oleh poros nok (cam shaft)

b. Breaker point (platina)

Berfungsi untuk memutuskan arus listrik yang mengalir melalui kumparan primer pada ignition coil untuk menghasilkan arus listrik tegangan tinggi pada kumparan sekunder dengan cara induksi elektromagnet.

c. Kondensor

Berfungsi untuk menyerap loncatan bunga api yang terjadi pada platina saat membuka dengan tujuan untuk menaikkan tegangan coil sekunder.

Baca lebih lanjut : Fungsi Kondensor pada Sistem Pengapian

d. Centrifugal Governor Advancer

Berfungsi memajukan saat pengapian sesuai dengan putaran mesin.

e. Vakum Advancer

Berfungsi untuk memajukan saat pengapian berdasarkan beban mesin. Bentuknya mirip seperti piringan dengan dua buah selang yang dihubungkan ke karburator dan intake manifold.

Komponen yang satu ini dipasang pada distributor, dan dihubunkan dengan backing plate atau dudukan dari platina. Sehingga ketika komponen ini aktif, dia akan menggeser backing plate yang akan mempengaruhi buka tutup platina.


Bagian vakum advancer

Keterangan gambar :
1. Plat dudukan kontak pemutus yang bergerak radial
2. Batang penarik
3. Diafragma
4. Pegas
5. Langkah maksimum
6. Sambungan slang vakum

f. Rotor

Berfungsi membagikan arus listrik tegangan tinggi yang dihasilkan oleh ignition coil ke tiap-tiap busi.

g. Distributor Cap

Berfungsi untuk membagikan arus listrik tegangan tinggi dari rotor ke kabel tegangan tinggi untuk masing-masing busi.

4. Kabel Tegangan Tinggi (High Tension Cord)

Berfungsi untuk mengalirkan arus listrik tegangan tinggi dari ignition coil ke busi.  

5. Busi

Menghasilkan loncatan bunga api melalui elektrodanya. Atau mengeluarkan arus listrik tegangan tinggi menjadi loncata bunga api pada elektrodanya.  

Cara Kerja Sistem Pengapian Konvensional

Cara kerja sistem pengapian konvensional di bawah ini di bagi menjadi dua bagian yaitu pada saat platina membuka dan pada saat platina menutup.

Cara kerja ini juga mengilustrasikan bagaimana arus listrik dari baterai 12 volt yang kemudian dibangkitkan menjadi 10k volt yang terjadi pada kumparan sekunder ignition coil dan kemudian disalurkan ke-busi melalui kabel busi.

1.  Saat Kontak Platina Menutup


Cara kerja sistem pengapian konvensional saat platina menutup

Ilustrasi di atas adalah cara kerja sistem pengapian pada saat kontak platina menutup. Pada saat ini aliran arus dari baterai akan mengalir ke kunci kontak, kumparan primer coil, menuju ke platina dan ke massa. Lihat aliran arus pada garis berwarna merah.

Karena kumparan primer pada ignition coil dialiri arus, maka akan terjadi kemagnetan pada kumparan tersebut.

2. Saat Kontak Platina Membuka


Cara kerja sistem pengapian konvensional saat platina membuka

Ketika nok distributor berputar kemudian membuka kontak platina, maka arus primer (arus yang mengalir pada kumparan primer coil) akan terputus secara tiba-tiba. Pemutusan arus ini akan mengakibatkan indusi elektromagnetik pada kumparan sekunder coil. Tegangan akan dibangkitkan menjadi 10k volt atau lebih.

Arus yang telah dibangkitkan di kumparan sekunder coil ini akan dialirkan ke rotor dan di distribusikan ke masing-masing busi. Busi yang teraliri arus tegangan tinggi akan terjadi loncatan bunga api untuk membakar campuran udara dan bahan bakar.

*lihat garis berwarna merah

Kontak platina yang membuka dan menutup akan menghasilkan percikan juga pada kontak platina, percikan ini akan merugikan tegangan dan membuat kontak platina lebih cepat aus.

Merugikan tegangan karena pemutusan arus primer akan terhambat akibat percikan api. Untuk itulah ada kondensor yang akan menyerap tegangan dan menyimpannya, sehingga loncatan bunga api pada platina dapat diminimalisisr.

 

Sumber:

https://www.bisaotomotif.com/sistem-pengapian-konvensional/


Thursday, March 4, 2021

SISTEM PENGAPIAN KONVENSIONAL

 

Sistem Pengapian Konvensional Sistem yang Membuat Kendaraan Bergerak

 

Sistem Pengapian Konvensional – Sistem pengapian suatu sistem dalam kendaraan bermotor terutama kendaraan yang berbahan bakar gasoline (bensin) yang berfungsi untuk membakar campuran udara dan bahan bakar saat piston pada akhir langkah kompresi, sedangkan pengertian sistem pengapian konvensional adalah sistem pengapian yang terdapat pada kendaraan bermotor yang masih menggunakan platina sebagai pemutus dan penghubung pengapian. 

Dalam istilah lain sistem pengapian konvensional sebuah rangkaian mekatronika sederhana yang dibuat dengan tujuan untuk membangkitkan percikan api pada busi pada interval waktu tertentu.

Percikan api pada busi dapat terbentuk karena adanya energi listrik tegangan tinggi yang mengalir melewati elektroda busi. Tegangan Energi listrik tersebut mencapai 30.000 V DC sehingga dengan celah sekitar 0,8 mm pada elektroda busi, akan timbul lompatan elektron yang berbentuk percikan api. 

 


Namun percikan api tersebut hanya diperlukan saat langkah usaha saja. Untuk itu, ada rangkaian pemutus arus yang akan mengatur waktu busi untuk memercikan api, sehingga busi tidak selamanya menyala. 

Ø  Komponen Sistem Pengapian Konvensional

Dalam sistem pengapian konvensional terdapat berbagai komponen yang membentuknya. Setiap komponen memiliki tugas dan fungsinya masing-masing yang saling berkaitan. Berikut komponen dalam sistem pengapian konvensional.

 

1.      Baterai

Baterai berfungsi untuk menyediakan arus listrik voltase rendah (12 volt) untuk ignition coil.  Selain itu, baterai juga berfungsi untuk mensuplai kebutuhan kelistrikan pada saat mesin belum hidup, komponen yang disuplai antara lain sistem pengisian, klakson, sistem starter dan komponen kelistrikan bodi yang lain.

2.      Ignition coil

Ignition coil berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai (12) menjadi tegangan tinggi (10 KV atau lebih) yang dibutuhkan untuk pengapian (meloncatkan bunga api pada busi). Koil pengapian terdiri dari dua kumparan yang masing-masing dililitkan pada inti besi. Kumparan pertama yaitu kumparan primer, dan yang kedua adalah kumparan sekunder.

Kumparan primer akan menerima arus dari baterai, yang kemudian akan diputus oleh breaker point (platina) sehingga pada kumparan sekunder terjadi induksi elektromagnetik dan membangkitkan tegangan hingga 10K volt atau lebih.

Kumparan primer coil memiliki kawat tembaga yang lebih besar (0,5 – 1,0 mm) namun memiliki jumlah gulungan yang lebih sedikit dibandingkan kumparan sekunder yaitu 150 – 300 kali. Adapun sebaliknya, kumparan sekunder memiliki kawat tembaga dengan diameter yang lebih kecil, namun memiliki jumlah gulungan yang lebih banyak yaitu antara 15.000 – 30.000 gulungan.

3.      Distributor

Distributor ini berfungsi untuk mendistribusikan tegangan tinggi yang telah dibangkitkan oleh ignition coil ke masing-masing silinder. Distributor terdiri dari beberapa komponen di bawah ini.

a.       Cam (nok)

Nok berguna untuk membuka platina pada sudut crankshaft (poros engkol) yang tepat untuk setiap silinder. Nok ini terhubung dengan poros distributor, dan biasanya digerakkan oleh poros nok (camshaft).

b.      Breaker point (platina)

Fungsi platina adalah untuk memutuskan arus listrik yang mengalir melalui kumparan primer pada ignition coil untuk menghasilkan arus listrik tegangan tinggi pada kumparan sekunder dengan cara induksi elektromagnet.

c.       Kondensor

komponen yang satu ini berfungsi untuk menyerap loncatan bunga api yang terjadi pada platina saat membuka dengan tujuan untuk menaikkan tegangan coil sekunder.

d.      Centrifugal Governor Advancer

Centrifugal Governor Advancer berfungsi memajukan saat pengapian sesuai dengan putaran mesin.

e.       Vakum Advancer

Berfungsi untuk memajukan saat pengapian berdasarkan beban mesin. Bentuknya mirip seperti piringan dengan dua buah selang yang dihubungkan ke karburator dan intake manifold. Vakum advancer dipasang pada distributor dan dihubunkan dengan backing plate atau dudukan dari platina. Sehingga ketika komponen ini aktif, dia akan menggeser backing plate yang akan mempengaruhi buka tutup platina.

 

f.        Rotor

Fungsi rotor adalah untuk membagikan arus listrik tegangan tinggi yang dihasilkan oleh ignition coil ke tiap-tiap busi.

g.      Distributor Cap

Distributor Cap berguna untuk membagikan arus listrik tegangan tinggi dari rotor ke kabel tegangan tinggi untuk masing-masing busi.

4.      Kabel Tegangan Tinggi (High Tension Cord)

Kabel ini berfungsi untuk mengalirkan arus listrik tegangan tinggi dari ignition coil ke busi.  

5.      Busi

Busi berfungsi untuk menghasilkan loncatan bunga api melalui elektrodanya atau mengeluarkan arus listrik tegangan tinggi menjadi loncata bunga api pada elektrodanya.  

 

Ø Cara Kerja Pengapian Konvensional

·         Saat kunci kontak “ON”

Cara kerja pengapian konvenional dimulai saat kunci kontak berada pada posisi “ON” atau “IGN”, ignition relay dan main relay akan aktif sehingga terdapat aliran arus listrik dari baterai ke Ignition relay dan main relay. Arus dari relay mengalir ke ignition coil. Didalam ignition coil, terdapat dua buah kumparan yaitu kumparan primer dan sekunder.

Kedua kumparan tersebut memiliki input yang sama sehingga saat input dialiri arus listrik, kedua kumparan juga akan teraliri arus listrik. Sementara itu, kedua kumparan memiliki output yang berbeda. Kumparan primer memiliki output yang mengarah ke rangkaian pemutus arus, sedangkan kumparan sekunder memiliki output yang mengarah ke busi.

Arus listrik yang mengaliri rangkaian sistem pengapian hanya stand by dan tidak ada perubahan tegangan pada coil karena belum ada pergerakan pada rangkaian pemutus arus. Sehingga busi tidak akan menyala saat flywheel belum berputar.

·         Saat posisi “START”

Sistem pengapian akan bekerja pada saat flywheel diputar oleh sistem starter. Pada sistem pengapian konvensional, terdapat rangkaian pemutus arus. Rangkaian ini, terletak menyatu dengan rangkaian distributor dan memiliki komponen poros distributor yang terhubung dengan crankshaft mesin. Dengan begitu ketika mesin berputar, komponen ini juga ikut berputar sesuai RPM mesin.

Di poros distributor, terdapat cam atau nok yang berjumlah sesuai dengan banyaknya silinder mesin. Saat cam berputar, cam atau nok ini akan menyentuh kaki platina yang mengakibatkan kontak point terangkat dan menyebabkan arus primer terputus.

·         Saat arus primer terputus

Sebelumnya, terdapat aliran arus pada kumparan primer yang menyebabkan adanya medan magnet pada kumparan primer. Saat arus primer tiba-tiba terputus, kemagnetan pada kumparan primer akan padam. Karena bentuknya yang melilit, medan magnet akan bergerak secara serentak ke bagian dalam sebelum menghilang.

Di bagian dalam kumparan primer terdapat kumparan sekunder dengan jumlah lilitan mencapai 10 kali lebih besar. Akhirnya, medan magnet tersebut mengenai kumparan sekunder. Sehingga tegangan pada kumparan sekunder meningkat drastis.

Tegangan ini bersifat sekejap karena terjadi saat adanya pergerakan medan magnet dari arus primer yang berlangsung sekejap pula. Untuk itu, untuk mendukung proses pengapian berlanjut platina harus dapat memutus dan menghubungkan arus primer dengan timing yang tepat.

Energi listrik bertegangan tinggi dari kumparan sekunder disalurkan ke busi melalui komponen distributor. Distributor akan mengalirkan listrik tersebut ke masing-masing busi dengan timing dan FO yang tepat. Sistem pengapian konvensional juga disebut sebagai sistem pengapian platina karena cara kerja platina pada pengapian konvensional sangatlah penting.

Itulah penjelasan mengenai sistem pengapian konvensional, mulai dari pengertian, komponen, hingga cara kerjanya. Sistem tersebut merupakan sistem yang umumnya digunakan dalam kendaraan. Mudah-mudahan penjelasan ini dapat bermanfaat untuk Anda. 


sumber

https://coversuper.com/blog/sistem-pengapian-konvensional-sistem-yang-membuat-kendaraan-bergerak/

KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3)

  KESALAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) Pengetahuan Selama Bekerja   1. Selalu utamakan kelamatan kerja untuk mencegah kecelakaan kerja.   2....