Thursday, March 18, 2021

Sistem Pengapian Konvensional: Pengertian, Fungsi, Komponen dan Cara Kerja

 

Sistem Pengapian Konvensional: Pengertian, Fungsi, Komponen dan Cara Kerja

Pengertian, Fungsi, Komponen dan Cara Kerja – Motor bakar merupakan motor yang menghasilkan tenaga melalui proses pembakaran campuran udara dan bahan bakar di dalam cylinder (ruang bakar). Berdasarkan jenis bahan bakarnya, motor bakar khususnya mobil dibedakan menjadi dua yaitu mesin bensin dan mesin diesel.

Pada mesin bensin, pada akhir langkah kompresi dibutuhkan percikan bunga api untuk membakar campuran udara dan bahan bakar yang telah dikompresi tadi. Sehingga akan terjadi langkah usaha yang menghasilkan tenaga untuk menggerakkan mobil.

Lihat selengkapnya tentang siklus kerja motor dalam artikel : Cara Kerja Motor 4 Langkah (Tak).

Sebuah sistem yang menyediakan percikan bunga api dalam ruang bakar ini disebut sebagai sistem pengapian. Percikan atau loncatan bunga api akan terjadi pada ujung elektroda pada busi, bunga api ini dapat terjadi apabila tegangan yang melawatinya cukup tinggi. Untuk itu diperlukan ignition coil (koil pengapian) untuk menaikkan tegangan baterai (12 volt) menjadi 10k volt.

Tegangan yang telah dinaikkan akan disalurkan/dibagi ke masing-masing silinder oleh distributor melalui kabel busi (kabel tegangan tinggi). Seiring perkembangan teknologi, sistem pengapian ini terus berkembang dengan kecanggihan dan kefektifannya.

Ada sistem pengapian elektronik yang menggunakan transistor, CDI dan lain-lain, komponennya pun juga mengalami perkembangan. Misal saja pada sistem pengapian konvensional menggunakan satu ignition coil untuk 4 silinder, namun pada mobil-mobil sekarang terdapat satu ignition coil untuk satu silinder, atau satu inginiton coil untuk 2 silinder.

Sebelum memahami sistem pengapian elektronik, kita akan mempelajari terlebih dahulu mengenai sistem pengapian konvensional. Kita akan mempelajari mulai dari pengertian sistem pengapian, fungsi sistem pengapian, komponen-komponennya dan cara kerja sistem pengapian konvensional.

Tapi sebelum itu semua, bantu website ini dengan like fanspage dan subcribe channel YouTube bisaotomotif.com yaa.. Terimakasih !!  

Pengertian Sistem Pengapian Konvensional 

Pengertian ke 1 :

Sistem pengapian konvensional adalah sebuah sistem pada kendaraan bermotor yang berfungsi untuk membangkitkan tegangan baterai (12 volt) menjadi tegangan tinggi (10k volt) yang kemudian disalurkan ke masing-masing silinder sehingga menghasilkan loncatan bunga api pada busi yang dibutuhkan untuk proses pembakaran.

Pengertian ke 2 :

Sistem pengapian konvensional adalah sebuah sistem yang berfungsi untuk menyediakan loncatan bunga api pada busi dengan cara menaikkan tegangan baterai menjadi tegangan tinggi (pada coil) dengan bantuan platina (breaker point) untuk memutuskan arus primer (arus dari baterai).


Fungsi Sistem Pengapian

Sistem pengapian konvensionel memiliki beberapa fungsi utama yaitu :

1. Menyediakan loncatan bunga api pada busi dalam waktu yang tepat untuk membakar campuran udara dan bahan bakar.

2. Agar terjadi loncatan bunga api, maka tegangan harus tinggi. Sehingga sistem pengapian juga berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai menjadi tegangan tinggi pada coil melalui hubung singkat arus primer oleh breaker point (platina).

Komponen-komponen Sistem Pengapian Konvensional + Fungsinya

Sistem pengapian konvensional memiliki beberapa komponen utama, yang membedakan komponen sistem pangapian konvensional dan elektronik adalah pada pemutusan arus primernya. Pemutusan arus primer ini bertujuan agar pada ignition coil terjadi induksi tegangan tinggi.

Pada pengapian konvensional pemutusan arus primer dilakukan oleh breaker point (platina), sementara pada pengapian elektronik dilakukan oleh transistor maupun CDI (Capasitor Dicharge Igntiton).

Berikut adalah komponen-komponen sistem pengapian beserta fu

ngsinya :


Komponen SIstem Pengapian Konvensional

1. Baterai

Dalam sistem pengapian baterai ini berfungsi untuk menyediakan arus listrik voltase rendah (12 volt) untuk ignition coil.  Selain menjadi komponen sistem pengapian, baterai juga berfungsi untuk mensuplay kebutuhan kelistrikan pada saat mesin belum hidup, komponen yang disuplay antara lain sistem pengisian, klakson, sistem starter dan komponen kelistrikan bodi yang lain.

2. Ignition coil

Berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai (12) menjadi tegangan tinggi (10KV atau lebih) yang dibutuhkan untuk pengapian (meloncatkan bunga api pada busi).

Koil pengapian terdiri dari dua kumparan yang masing-masing dililitkan pada inti besi. Kumparan pertama disebut dengan kumparan primer, dan yang kedua disebut kumparan sekunder.

Kumparan primer akan menerima arus dari baterai, yang kemudian akan diputus oleh breaker point (platina) sehingga pada kumparan sekunder terjadi induksi elektromagnetik dan membangkitkan tegangan hingga 10K volt atau lebih.


Gambar kontruksi ignition coil (koil pengapian)

 

Kumparan primer coil memiliki kawat tembaga yang lebih besar (0,5 – 1,0 mm) namun memiliki jumlah gulungan yang lebih sedikit dibandingkan kumparan sekunder yaitu 150 – 300 kali.

Sebaliknya, kumparan sekunder memiliki kawat tembaga dengan diameter yang lebih kecil, namun memiliki jumlah gulungan yang lebih banyak yaitu antara 15.000 – 30.000 gulungan.

3. Distributor


Gambar ilustrasi distributor pada sistem pengapian

Berfungsi untuk membagi/mendistribusikan tegangan tinggi yang telah dibangkitkan oleh ignition coil ke masing-masing silinder. Distributor terdiri dari beberapa komponen yaitu :  


Komponen-komponen Distributor

 

a. Cam (nok)

Berfungsi untuk membuka breaker point (platina) pada sudut crankshaft (poros engkol) yang tepat untuk setiap silinder. Nok ini terhubung dengan poros distributor, dan biasanya digerakkan oleh poros nok (cam shaft)

b. Breaker point (platina)

Berfungsi untuk memutuskan arus listrik yang mengalir melalui kumparan primer pada ignition coil untuk menghasilkan arus listrik tegangan tinggi pada kumparan sekunder dengan cara induksi elektromagnet.

c. Kondensor

Berfungsi untuk menyerap loncatan bunga api yang terjadi pada platina saat membuka dengan tujuan untuk menaikkan tegangan coil sekunder.

Baca lebih lanjut : Fungsi Kondensor pada Sistem Pengapian

d. Centrifugal Governor Advancer

Berfungsi memajukan saat pengapian sesuai dengan putaran mesin.

e. Vakum Advancer

Berfungsi untuk memajukan saat pengapian berdasarkan beban mesin. Bentuknya mirip seperti piringan dengan dua buah selang yang dihubungkan ke karburator dan intake manifold.

Komponen yang satu ini dipasang pada distributor, dan dihubunkan dengan backing plate atau dudukan dari platina. Sehingga ketika komponen ini aktif, dia akan menggeser backing plate yang akan mempengaruhi buka tutup platina.


Bagian vakum advancer

Keterangan gambar :
1. Plat dudukan kontak pemutus yang bergerak radial
2. Batang penarik
3. Diafragma
4. Pegas
5. Langkah maksimum
6. Sambungan slang vakum

f. Rotor

Berfungsi membagikan arus listrik tegangan tinggi yang dihasilkan oleh ignition coil ke tiap-tiap busi.

g. Distributor Cap

Berfungsi untuk membagikan arus listrik tegangan tinggi dari rotor ke kabel tegangan tinggi untuk masing-masing busi.

4. Kabel Tegangan Tinggi (High Tension Cord)

Berfungsi untuk mengalirkan arus listrik tegangan tinggi dari ignition coil ke busi.  

5. Busi

Menghasilkan loncatan bunga api melalui elektrodanya. Atau mengeluarkan arus listrik tegangan tinggi menjadi loncata bunga api pada elektrodanya.  

Cara Kerja Sistem Pengapian Konvensional

Cara kerja sistem pengapian konvensional di bawah ini di bagi menjadi dua bagian yaitu pada saat platina membuka dan pada saat platina menutup.

Cara kerja ini juga mengilustrasikan bagaimana arus listrik dari baterai 12 volt yang kemudian dibangkitkan menjadi 10k volt yang terjadi pada kumparan sekunder ignition coil dan kemudian disalurkan ke-busi melalui kabel busi.

1.  Saat Kontak Platina Menutup


Cara kerja sistem pengapian konvensional saat platina menutup

Ilustrasi di atas adalah cara kerja sistem pengapian pada saat kontak platina menutup. Pada saat ini aliran arus dari baterai akan mengalir ke kunci kontak, kumparan primer coil, menuju ke platina dan ke massa. Lihat aliran arus pada garis berwarna merah.

Karena kumparan primer pada ignition coil dialiri arus, maka akan terjadi kemagnetan pada kumparan tersebut.

2. Saat Kontak Platina Membuka


Cara kerja sistem pengapian konvensional saat platina membuka

Ketika nok distributor berputar kemudian membuka kontak platina, maka arus primer (arus yang mengalir pada kumparan primer coil) akan terputus secara tiba-tiba. Pemutusan arus ini akan mengakibatkan indusi elektromagnetik pada kumparan sekunder coil. Tegangan akan dibangkitkan menjadi 10k volt atau lebih.

Arus yang telah dibangkitkan di kumparan sekunder coil ini akan dialirkan ke rotor dan di distribusikan ke masing-masing busi. Busi yang teraliri arus tegangan tinggi akan terjadi loncatan bunga api untuk membakar campuran udara dan bahan bakar.

*lihat garis berwarna merah

Kontak platina yang membuka dan menutup akan menghasilkan percikan juga pada kontak platina, percikan ini akan merugikan tegangan dan membuat kontak platina lebih cepat aus.

Merugikan tegangan karena pemutusan arus primer akan terhambat akibat percikan api. Untuk itulah ada kondensor yang akan menyerap tegangan dan menyimpannya, sehingga loncatan bunga api pada platina dapat diminimalisisr.

 

Sumber:

https://www.bisaotomotif.com/sistem-pengapian-konvensional/


Thursday, March 4, 2021

SISTEM PENGAPIAN KONVENSIONAL

 

Sistem Pengapian Konvensional Sistem yang Membuat Kendaraan Bergerak

 

Sistem Pengapian Konvensional – Sistem pengapian suatu sistem dalam kendaraan bermotor terutama kendaraan yang berbahan bakar gasoline (bensin) yang berfungsi untuk membakar campuran udara dan bahan bakar saat piston pada akhir langkah kompresi, sedangkan pengertian sistem pengapian konvensional adalah sistem pengapian yang terdapat pada kendaraan bermotor yang masih menggunakan platina sebagai pemutus dan penghubung pengapian. 

Dalam istilah lain sistem pengapian konvensional sebuah rangkaian mekatronika sederhana yang dibuat dengan tujuan untuk membangkitkan percikan api pada busi pada interval waktu tertentu.

Percikan api pada busi dapat terbentuk karena adanya energi listrik tegangan tinggi yang mengalir melewati elektroda busi. Tegangan Energi listrik tersebut mencapai 30.000 V DC sehingga dengan celah sekitar 0,8 mm pada elektroda busi, akan timbul lompatan elektron yang berbentuk percikan api. 

 


Namun percikan api tersebut hanya diperlukan saat langkah usaha saja. Untuk itu, ada rangkaian pemutus arus yang akan mengatur waktu busi untuk memercikan api, sehingga busi tidak selamanya menyala. 

Ø  Komponen Sistem Pengapian Konvensional

Dalam sistem pengapian konvensional terdapat berbagai komponen yang membentuknya. Setiap komponen memiliki tugas dan fungsinya masing-masing yang saling berkaitan. Berikut komponen dalam sistem pengapian konvensional.

 

1.      Baterai

Baterai berfungsi untuk menyediakan arus listrik voltase rendah (12 volt) untuk ignition coil.  Selain itu, baterai juga berfungsi untuk mensuplai kebutuhan kelistrikan pada saat mesin belum hidup, komponen yang disuplai antara lain sistem pengisian, klakson, sistem starter dan komponen kelistrikan bodi yang lain.

2.      Ignition coil

Ignition coil berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai (12) menjadi tegangan tinggi (10 KV atau lebih) yang dibutuhkan untuk pengapian (meloncatkan bunga api pada busi). Koil pengapian terdiri dari dua kumparan yang masing-masing dililitkan pada inti besi. Kumparan pertama yaitu kumparan primer, dan yang kedua adalah kumparan sekunder.

Kumparan primer akan menerima arus dari baterai, yang kemudian akan diputus oleh breaker point (platina) sehingga pada kumparan sekunder terjadi induksi elektromagnetik dan membangkitkan tegangan hingga 10K volt atau lebih.

Kumparan primer coil memiliki kawat tembaga yang lebih besar (0,5 – 1,0 mm) namun memiliki jumlah gulungan yang lebih sedikit dibandingkan kumparan sekunder yaitu 150 – 300 kali. Adapun sebaliknya, kumparan sekunder memiliki kawat tembaga dengan diameter yang lebih kecil, namun memiliki jumlah gulungan yang lebih banyak yaitu antara 15.000 – 30.000 gulungan.

3.      Distributor

Distributor ini berfungsi untuk mendistribusikan tegangan tinggi yang telah dibangkitkan oleh ignition coil ke masing-masing silinder. Distributor terdiri dari beberapa komponen di bawah ini.

a.       Cam (nok)

Nok berguna untuk membuka platina pada sudut crankshaft (poros engkol) yang tepat untuk setiap silinder. Nok ini terhubung dengan poros distributor, dan biasanya digerakkan oleh poros nok (camshaft).

b.      Breaker point (platina)

Fungsi platina adalah untuk memutuskan arus listrik yang mengalir melalui kumparan primer pada ignition coil untuk menghasilkan arus listrik tegangan tinggi pada kumparan sekunder dengan cara induksi elektromagnet.

c.       Kondensor

komponen yang satu ini berfungsi untuk menyerap loncatan bunga api yang terjadi pada platina saat membuka dengan tujuan untuk menaikkan tegangan coil sekunder.

d.      Centrifugal Governor Advancer

Centrifugal Governor Advancer berfungsi memajukan saat pengapian sesuai dengan putaran mesin.

e.       Vakum Advancer

Berfungsi untuk memajukan saat pengapian berdasarkan beban mesin. Bentuknya mirip seperti piringan dengan dua buah selang yang dihubungkan ke karburator dan intake manifold. Vakum advancer dipasang pada distributor dan dihubunkan dengan backing plate atau dudukan dari platina. Sehingga ketika komponen ini aktif, dia akan menggeser backing plate yang akan mempengaruhi buka tutup platina.

 

f.        Rotor

Fungsi rotor adalah untuk membagikan arus listrik tegangan tinggi yang dihasilkan oleh ignition coil ke tiap-tiap busi.

g.      Distributor Cap

Distributor Cap berguna untuk membagikan arus listrik tegangan tinggi dari rotor ke kabel tegangan tinggi untuk masing-masing busi.

4.      Kabel Tegangan Tinggi (High Tension Cord)

Kabel ini berfungsi untuk mengalirkan arus listrik tegangan tinggi dari ignition coil ke busi.  

5.      Busi

Busi berfungsi untuk menghasilkan loncatan bunga api melalui elektrodanya atau mengeluarkan arus listrik tegangan tinggi menjadi loncata bunga api pada elektrodanya.  

 

Ø Cara Kerja Pengapian Konvensional

·         Saat kunci kontak “ON”

Cara kerja pengapian konvenional dimulai saat kunci kontak berada pada posisi “ON” atau “IGN”, ignition relay dan main relay akan aktif sehingga terdapat aliran arus listrik dari baterai ke Ignition relay dan main relay. Arus dari relay mengalir ke ignition coil. Didalam ignition coil, terdapat dua buah kumparan yaitu kumparan primer dan sekunder.

Kedua kumparan tersebut memiliki input yang sama sehingga saat input dialiri arus listrik, kedua kumparan juga akan teraliri arus listrik. Sementara itu, kedua kumparan memiliki output yang berbeda. Kumparan primer memiliki output yang mengarah ke rangkaian pemutus arus, sedangkan kumparan sekunder memiliki output yang mengarah ke busi.

Arus listrik yang mengaliri rangkaian sistem pengapian hanya stand by dan tidak ada perubahan tegangan pada coil karena belum ada pergerakan pada rangkaian pemutus arus. Sehingga busi tidak akan menyala saat flywheel belum berputar.

·         Saat posisi “START”

Sistem pengapian akan bekerja pada saat flywheel diputar oleh sistem starter. Pada sistem pengapian konvensional, terdapat rangkaian pemutus arus. Rangkaian ini, terletak menyatu dengan rangkaian distributor dan memiliki komponen poros distributor yang terhubung dengan crankshaft mesin. Dengan begitu ketika mesin berputar, komponen ini juga ikut berputar sesuai RPM mesin.

Di poros distributor, terdapat cam atau nok yang berjumlah sesuai dengan banyaknya silinder mesin. Saat cam berputar, cam atau nok ini akan menyentuh kaki platina yang mengakibatkan kontak point terangkat dan menyebabkan arus primer terputus.

·         Saat arus primer terputus

Sebelumnya, terdapat aliran arus pada kumparan primer yang menyebabkan adanya medan magnet pada kumparan primer. Saat arus primer tiba-tiba terputus, kemagnetan pada kumparan primer akan padam. Karena bentuknya yang melilit, medan magnet akan bergerak secara serentak ke bagian dalam sebelum menghilang.

Di bagian dalam kumparan primer terdapat kumparan sekunder dengan jumlah lilitan mencapai 10 kali lebih besar. Akhirnya, medan magnet tersebut mengenai kumparan sekunder. Sehingga tegangan pada kumparan sekunder meningkat drastis.

Tegangan ini bersifat sekejap karena terjadi saat adanya pergerakan medan magnet dari arus primer yang berlangsung sekejap pula. Untuk itu, untuk mendukung proses pengapian berlanjut platina harus dapat memutus dan menghubungkan arus primer dengan timing yang tepat.

Energi listrik bertegangan tinggi dari kumparan sekunder disalurkan ke busi melalui komponen distributor. Distributor akan mengalirkan listrik tersebut ke masing-masing busi dengan timing dan FO yang tepat. Sistem pengapian konvensional juga disebut sebagai sistem pengapian platina karena cara kerja platina pada pengapian konvensional sangatlah penting.

Itulah penjelasan mengenai sistem pengapian konvensional, mulai dari pengertian, komponen, hingga cara kerjanya. Sistem tersebut merupakan sistem yang umumnya digunakan dalam kendaraan. Mudah-mudahan penjelasan ini dapat bermanfaat untuk Anda. 


sumber

https://coversuper.com/blog/sistem-pengapian-konvensional-sistem-yang-membuat-kendaraan-bergerak/

Sunday, July 19, 2020

Monday, April 22, 2019

Pemeliharaan Baterai

Indikator :
Mampu menjelaskan prosedur perawatan baterai

A. Tujuan Pembelajaran :
1. Siswa dapat menjelaskan tujuan/fungsi perawatan baterai.
2. Siswa dapat menjelaskan prosedur melepas baterai.
3. Siswa dapat menguraikan kegiatan perawatan baterai.

B. ALAT DAN BAHAN KERJA
1. Baterai 12 V                               5. Air aki
2. Hidrometer                                 6. Air
3. Tang                                           7. Ember
4. Sikat pembersih

C. Materi Standar :
1. Fungsi Perwatan Baterai :
Diantaranya adalah untuk mencegah baterai dari kemungkinan kekurangan elektrolit, juga agar terminal baterai menjadi awet. Perawatan baterai yang baik akan mempu memperpanjang usia baterai, karena dengan perawatan yang baiK:

a. Mencegah baterai dari kemungkinan kekurangan elektrolit baterai. Bila baterai kekurangan elektrolit dapat menyebabkan baterai panas, terjadi kristalisasi pada sel-sel baterai dan bahan aktif pada sel lepas. Adanya bahan aktif yang lepas menyebabkan efektifitas baterai menurun dan bahan aktif sel yang lepas akan jatuh di dasar kotak atau terselip diantara sel, bahan aktif yang terjepit ini akan menyebabkan pengosongan tersendiri.

b. Terminal baterai menjadi awet Terminal baterai sering rusak akibat korosi, penyebab korosi adalah uap dari elektrolit dan panas akibat terminal kendor. Dengan perawatan yang baik kedua terminal baterai akan sering dibersihkan, dilindungi dengan grease dan pengikatan terminal dikencangkan sehingga korosi pada terminal mampu dicegah.

2. Proses Melepas Baterai :
Terdapat 3 hal yang sering dilakukan terkait dengan pelepasan baterai, ketiga hal tersebut adalah:
a. Melepas baterai untuk tujuan perawatan baterai, penggantian elektrolit, mengganti baterai dan melakukan perbaikan kendaraan yang perlu melepas bateraii
b. Mengganti baterai dengan baterai baru
c. Melakukan bantuan starter akibat energi yang disimpan pada baterai tidak cukup untuk melakukan starter.

Langkah Melepas Baterai
1) Matikan semua beban listrik terlebih dahulu melalui switch / kontak masing-masing.
2) Matikan atau putar kunci kontak pada posisi “OFF”.
3) Buka tutup/ kap tempat baterai pada mesin.
4) Pasang pelindung / fender untuk melindungi cat dari kemungkinan tergores atau tumpahan asam.
5) Kendorkan terminal baterai negatip terlebih dahulu dengan kunci yang tepat. Hati-hati jangan meletakkan kunci diatas baterai karena hal ini dapat menyebabkan hubung singkat.
6) Bila terminal tersebut melekat dengan kuat pada terminal baterai, jangan memukul atau mencungkil terminal baterai untuk melepaskannya. Ini dapat merusak posnya atau baterai. Gunakan obeng untuk melebarkan terminal, kemudian tarik dengan traker khusus.

7) Lepas klem baterai dengan melepas mur pada tangkai pengikat.
8) Angkat baterai dari kendaraan
9) Tempatkan baterai di dalam kotak plastic. Selama melaksanakan pekerjaan dengan baterai, jagalah agar elektrolit baterai tidak tumpah atau mengenai anggota badan maupun pakaian karena kandungan asam sulfat pada elektrolit sangat berbahaya.
10) Bersihkan permukaan baterai dengan air soda dan menggunakan kuas, kemudian keringkan dengan lap sampai kering
11) Bersihkan kutub – kutub baterai dengan alat khusus. Jika tidak ada, pakailah sikat kuningan atau kertas gosok halus.

12) Periksa ketinggian elektrolit baterai, jumlah elektrolit yang tepat yaitu antara Upper Level dengan Lower Level, pada baterai tanpa tanda permukaan pelat sel harus tertutup ? 8 mm
13) Bila kurang jangan diisi dengan air biasa, isilah dengan air suling atau air accu.

14) Pasang kembali baterai pada tempatnya, perhatikan posisi pengikatan dan klem baterai harus kuat agar baterai tidak goyang saat kendaraan berjalan atau bekerja, sehingga dapat retak, elektrolit tumpah.
15) Pasang terminal baterai dengan kuat, pemasangan yang kuat akan mengurangi kerugian tegangan pada terminal, panas yang timbul pada terminal ataupun korosi.
16) Berikan grease atau vet pada terminal baterai sebelum memasang terminal, beri Vet pada kutup dan terminal untuk mencegah karatan. Pasang terminal positif sebelum terminal negatif

17) Lindungi terminal baterai positip dengan penutup karet atau isolator guna menghindari hubungan pendek.

18) Baterai yang selalu mendapat servis akan mempunyai umur yang panjang dibandingkan yang tidak mendapat perawatan dengan baik.

Mengganti Baterai
Baterai harus diganti bila telah mengalami kerusakan, kerusakan baterai dapat berupa:
1) Keretakan pada kotak sehingga elektrolit baterai keluar dan menyebabkan kerusakan atau korosi bagian yang terkena cairan elektrolit baterai.
2) Keausan terminal berlebihan menyebabkan kontak baterai dengan terminal kurang baik sehingga suplai listrik ke sistem menjadi kurang
3) Kerusakan pada sel-sel baterai akibat getaran, over charging maupun usia, sehingga baterai tidak mampu menyimpan listrik.

Ada tiga langkah utama dalam melaksanakan penggantian baterai
yaitu:
1) Melepas
2) Memilih baterai pengganti
3) Memasang

Proses melepas dan memasang telah dijelaskan di atas. Dalam menentukan baterai pengganti harus memperhatikan beberapa hal diantaranya:
1) Kapasitas baterai
2) Dimensi baterai
3) Ukuran dan posisi terminal baterai

Kapasitas baterai pengganti minimal sama dengan baterai sebelumnya, bila kapasitas baterai kurang dari sebelumnya maka suplai listrik saat starter kendaraan menjadi kurang, selain itu fungsi
stabilizer saat kendaraan berjalan kurang baik, sehingga bila kendaraan pada jalan macet atau sering menghidupkan starter terdapat kemungkinan kendaraan energi pada baterai kurang.

Dimensi baterai penting diperhatikan sebab pada kapasitas baterai yang sama belum tentu ukuran baterai sama, bila ukuran baterai terlalu besar menyebabkan tempat baterai tidak cukup, sedangkan
bila ukuran baterai terlalu kecil maka pengikatan tidak dapat dilakukan dengan baik.

Ukuran dan posisi terminal baterai pada setiap baterai tidak pasti sama, bila diameter terminal baterai lebih besar maka konektor baterai tidak masuk, sedangkan bila ukuran terlalu kecil maka pengikatan tidak dapat dilakukan dengan kuat. Posisi terminal tiap baterai juga tidak sama, bila hal ini terjadi maka kabel baterai menjadi kurang panjang.

Pada baterai sebenarnya terdapat kode yang menunjukkan karakteristik baterai yaitu kapasitas, demensi dan posisi terminal. Kode tersebut adalah sebagai berikut:

Pada kendaraan-kendaraan berat, tegangan baterai yang diperlukan khususnya untuk motor starter adalah 24 volt. Untuk memperoleh tegangan sumber 24 volt ini biasanya dilakukan dengan menggunakan dua buah baterai yang disambung atau dirangkai secara seri. Untuk itu perlu diperhatikan sambungan antar terminal pada saat merangkai baterai. Dalam memilih pengganti baterai, kedua baterai haruslah sama baik dari unsur dimensi, tegangan maupun kapasitas baterai.

D. Tugas 1
Lakukan pengamatan terhadap baterai kemudian catat kode pada baterai dan uraikan makna kode
tersebut. Seusaikan hasil yang anda catat dengan buku petunjuk/modul. Tanyakan hal- hal yang belum anda fahami pada guru/instruksi.

E. Test Formatif 1
1) Jelaskan prosedur melepas dan memasang baterai dengan benar.
2) Faktor apa saja yang harus diperhatikan dalam melepas baterai ?
3) Sebutkan hal yang harus diperhatikan dalam mengganti baterai, jelaskan mengapa factor tersebut perlu diperhatikan ?
4) Jelaskan makna kode NS 40Z yang tertulis pada kotak baterai
5) Kapan bantuan starter diperlukan, bagaimana prosedurnya ?

MACAM-MACAM CAR LIFT

  Jenis Car Lift Secara umum, desain car lift tertentu ditujukan untuk penyimpanan mobil yang untuk memaksimalkan penggunaan garasi parkir ...